Senin, 23 Juni 2008

BID'AH

FASAL TENTANG BID’AH
Perbuatan Baru yang Dilakukan Sahabat pada Zaman Nabi SAW
10/06/2008

Ada beberapa kebiasan yang dilakukan para sahabat berdasarkan ijtihad mereka sendiri, dan kebiasaan itu mendapat sambutan baik dari Rasulullah SAW. Bahkan pelakunya diberi kabar gembira akan masuk surga, mendapatkan rida Allah, diangkat derajatnya oleh Allah, atau dibukakan pintu-pintu langit untuknya.

Misalnya, sebagaimana digambarkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, perbuatan sahabat Bilal yang selalu melakukan shalat dua rakaat setelah bersuci. Perbuatan ini disetujui oleh Rasulullah SAW dan pelakunya diberi kabar gembira sebagai orang-­orang yang lebih dahulu masuk surga.

Contoh lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang sahabat Khubaib yang melakukan shalat dua rakaat sebelum beliau dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Kemudian tradisi ini disetujui oleh Rasulullah SAW setahun setelah meninggalnya.

Selain itu, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rifa'ah ibn Rafi' bahwa seorang sahabat berkata: "Rabbana lakal hamdu" (Wahai Tuhanku, untuk-Mu segala puja-puji), setelah bangkit dari ruku' dan berkata "Sami'allahu liman hamidah" (Semoga Allah mendengar siapapun yang memuji­Nya). Maka sahabat tersebut diberi kabar gembira oleh Rasulullah SAW.

Demikian juga, sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Mushannaf Abdur Razaq dan Imam An-Nasa'i dari Ibn Umar bahwa seorang sahabat memasuki masjid di saat ada shalat jamaah. Ketika dia bergabung ke dalam shaf orang yang shalat, sahabat itu berkata: "Allahu Akbar kabira wal hamdulillah katsira wa subhanallahi bukratan wa ashilan" (Allah Mahabesar sebesar-besarnya, dan segala puji hanya bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang). Maka Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada sahabat tersebut bahwa pintu­pintu langit telah dibukakan untuknya.

Hadis lain yang diriwayatkan oleh At- Tirmidzi bahwa Rifa'ah ibn Rafi' bersin saat shalat, kemudian berkata: "Alhamdulillahi katsiran thayyiban mubarakan 'alayhi kama yuhibbu rabbuna wa yardha" (Segala puji bagi Allah, sebagaimana yang disenangi dan diridai-Nya). Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda: "Ada lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang beruntung ditu­gaskan untuk mengangkat perkataannya itu ke langit."

Demikian juga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam An-Nasa'i dari beberapa sahabat yang duduk berzikir kepada Allah. Mereka mengungkapkan puji-pujian sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah karena diberi hidayah masuk Islam, sebagaimana mereka dianugerahi nikmat yang sangat besar berupa kebersamaan dengan Rasulullah SAW. Melihat tindakan mereka, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahuku bahwa Allah sekarang sedang berbangga-bangga dengan mereka di hadapan para malaikat."

Dari tindakan Rasulullah SAW yang menerima perbuatan para sahabat tersebut, kita bisa menarik banyak pelajaran sebagai berikut:

1. Rasulullah SAW tidak akan menolak tindakan yang dibenarkan syariat selama para pelakunya berbuat sesuai dengan pranata so sial yang berlaku dan membawa manfaat umum. Dengan demikian, perbuatan tersebut bisa dianggap sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt yang bisa dilakukan kapan saja, baik di malam maupun siang. Perbuatan ini tidak bisa disebut sebagai perbuatan yang makruh, apalagi bid'ah yang sesat.

2. Orang Islam tidak dipersoalkan karena perbuatan ibadah yang bersifat mutlak, yang tidak ditentukan waktunya dan tempatnya oleh syariat. Terbukti bahwa Rasulu1lah SAW telah membolehkan Bilal untuk melakukan shalat setiap selesai bersuci, sebagaimana menerlma perbuatan Khubaib yang shalat dua rakaat sebelum menjalani hukuman mati di tangan kaum kafir Quraisy.

3. Tindakan Nabi SAW yang membolehkan bacaan doa-doa waktu shalat, dan redaksinya dibuat sendiri oleh para shahabat, atau juga tindakan beliau yang membolehkan dikhususkannya bacaan surat-surat tertentu yang tidak secara rutin dibaca oleh beliau pada waktu shalat, tahajjud, juga doa-­doa tambahan lain. Itu menunjukkan bahwa semua perbuatan tersebut bukanlah bid'ah menurut syariat. Juga tidak bisa disebut sebagai bid'ah jika ada yang berdoa pada waktu-waktu yang mustajabah, seperti setelah shalat lima waktu, setelah adzan, setelah merapatkan barisan (dalam perang), saat turunnya hujan, dan waktu-waktu mustajabah lainnya. Begitu juga doa-doa dan puji­-pujian yang disusun oleh para ulama dan orang­ orang shalih tidak. bisa disebut sebagai bid'ah. Begitu juga zikir-zikir yang kemudian dibaca secara rutin selama isinya masih bisa dibenarkan oleh syariat.

4. Dari persetujuan Nabi SAW terhadap tindakan beberapa sahabat yang berkumpul di masjid untuk berzikir dan menyukuri nikmat dan kebaikan Al­lah Swt serta untuk membaca Al-Qur'an, dapat disimpulkan bahwa tindakan mereka mendapatkan legitimasi syariat, baik yang dilakukan dengan suara pelan ataupun dengan suara keras tanpa ada perubahan makna dan gangguan. Dan selama tindakan tersebut bersesuaian dengan kebutuhan umum dan tidak ada larangan syariat yang ditegaskan terhadapnya, maka perbuatan tersebut termasuk bentuk mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan termasuk bid'ah menurut syariat.

Dr. Oemar Abdallah Kemel
Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
(Dari karyanya "Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah" yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan "Kenapa Takut Bid’ah?")

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print

Sabtu, 19 April 2008

GUBERNUR PEREMPUAN, GAK MASALAH

PILGUB JATIM
Gus Sholah Tak Mempersoalkan Pemimpin Perempuan
Sabtu, 19 April 2008 07:32

Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), mengaku tak mempersoalkan keberadaan pemimpin perempuan. Menurutnya, dalam undang-undang atau hukum tata negara yang berlaku di Indonesia, tidak terdapat klausul khusus yang melarang perempuan untuk jadi pemimpin.

Karena itu, adik kandung mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut, meminta kepada masyarakat agar tak berlebihan menyikapi adanya pro dan kontra jika ada perempuan yang ingin menjadi pemimpin. Termasuk menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati atau walikota.

Gus Sholah mengatakan hal itu usai menemani Calon Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, berziarah ke makam Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama – NU) di Jombang, Jumat (18/4) kemarin.

Mantan ketua Pengurus Besar NU itu pun tak mempermasalahkan Khofifah yang diusung Koalisi Jatim Bangkit maju dalam Pemilihan Gubernur Jatim pada Juli mendatang. “Kalau saya sendiri, tidak ada masalah,” pungkasnya.

Namun demikian, ia menyarankan agar Khofifah lebih banyak bersilaturrahim kepada para ulama dan kiai NU. Pasalnya, beberapa kiai NU tak setuju atas keberadaan perempuan yang menjadi pemimpin. “Tujuannya untuk menjelaskan permasalahan kepimpinan perempuan,” tandasnya.

“Kepada warga NU, tidak perlu ribu-ribut, karena ini bukan masalah agama. Ini masalah kepentingan. Jadi, gunakan hak pilih,” pinta mantan calon wakil presiden yang berpasangan dengan Wiranto pada Pemilihan Presiden 2004 silam itu.

Ia yakin, Jatim di masa mendatang akan dipimpin seorang yang merupakan kader NU terbaik. Alasannya, jumlah warga NU di Jatim sangat besar. “Yang paling bagus adalah gubernurnya berasal dari kalangan NU. Dan, Khofifah layak jadi orang nomor satu, tinggal sekarang bagaimana dia mampu menjawab keraguan warga Nahdlyin,” ujarnya

Minggu, 02 Maret 2008

APA ARTI SEBUAH NAMA


Mohon maaf ada sedikit kekurangan pada posting saya., yaitu arti sebuah nama. Orang tua saya memberi nama tentunya punya maksud dan tujuan, hal ini memang anjuran agama, agar para orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya, karena nama bisa menjadi harapan dan doa. Nama yang baik menurut Rasulullah adalah Abdullah, Abdurrohman, Abdurrohim dan nama yang diambilkan dari asmaul husna (99 nama Allah) yang didahului dengan kata Abdu. Seperti Abdul Kholiq, Abdul Malik, Abdur Razaq dll. Kemudian nama yang dimulai dengan Muhammad atau Ahmad dan nama yang mempunyai arti baik. Seperti Suja' (Pemberani) Nashir (penolong) Murtaji (orang yang mengharap ridlo Allah) dll. Sedang untuk perempuan yaitu nama-nama yang berkonotasi baik. Terutama nama yang diambilkan dari nama putri Rasulullah atau istri Rasulullah.
Nah, sehubungan dengan hal tersebut, ayah saya (Kyai Muhammad Marzuqi) memberi saya nama Muhammad Muslih. Kata Muhammad diambilkan dari nama Nabi kita, dan muslih berarti orang yang memperbaiki akhlak manusia disamping juga kata muslih juga merupakan salah satu nama panggilan Nabi Muhammad. Ini berarti ayah saya berharap agar saya menjadi orang yang memperbaiki manusia artinya memberikan nasehat, mengajar dsb. Dan insya'allah harapan orang tua terkabul, karena saya tiap harinya bergelut dengan dunia pendidikan. Sedang kata "albaroni" dibelakang adalah menunjukkan arti bahwa saya berasal dari daerah BARON. Terpatnya asal saya adalah Ponpes AL-FALAH Sambirobyong Baron Kertosono NGANJUK Jatim tempat orang tua saya mengasuh pesantren.

Sabtu, 01 Maret 2008

Arti Sebuah Nama


Salam silaturrahim, salam sejahtera semoga rahmat dan hidayah Allah selalu menyertai kita sehari-hari. Amin.
Salam perkenalan, silahkan menyampaikan problem masalah agama (Islam tentunya) anda kepada kami, insya'allah kami akan menjawab dengan semampu kami.
Nama saya ketika baru dilahirkan adalah Muhammad Muslih ini adalah pemberian dari orang tuaku, Kyai Muhammad Marzuqi bin KH. Khusnindar bin Hasan Ali dan seterusnya sampai kepada KH. Hasan Besari Tegalsari Ponorogo. dari jalur ibu saya adalah bin Siti Maryam binti KH. Ali Murtadlo Banjarsari Minggiran Kediri.
Setelah menamatkan sekolah ditingkat PGA saya melanjutkan pendidikan di Pesantren Agung LIRBOYO Kediri dan baru pulang ketika dijodohkan oleh Kiai saya (KH. M. Anwar Manshur) dengan santri putri beliau dari Ponorogo yaitu Siti Roudlotun Nikmah, M.Pd.I putri dari KH. Qomaruddin Mufti Ponpes Hudatul Muna Jenes Ponorogo (1995).
Sejak saat itulah saya mukim di Ponorogo kota reyog meneruskan mengasuh pesantren peninggalan mertua yang wafat pada tahun 1989 (20 Pebruai).
Inilah anak-anak saya 1. Muhammad Nabil Muslih (1997), 2.Fiya Muktama Nabila Muslih (2000), 3. Ma'wa Nagata Ahyana Muslih (2004)